INAplas

Asosiasi Industri Aromatik, Olefin & Plastik Indonesia
Profil
  • Profil Inaplas
Berita Utama
  • Home
  • Petrokimia
  • Listrik
  • Ekonomi
  • Internasional
  • Investasi
  • Plastik
  • Energi Terbaharukan
  • Agro-Pertanian
  • Perdagangan
Berbagi Info
  • Diskusi
  • Direktori Industri
login



  • Forgot your password?
  • Forgot your username?
  • Create an account

INAplas

BKF: Penguatan Rupiah Belum Tentu Menghemat Anggaran

PostDateIconWednesday, 11 August 2010 19:13 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menilai penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat belum tentu menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sebab, utang pemerintah tidak dalam mata uang dollar Amerika Serikat saja.

Pjs Kepala BKF Agus Supriyanto menerangkan utang pemerintah juga ada dalam mata uang lain. Karena itu, dia mengatakan, potensi penghematan bisa terjadi jika rupiah juga menguat terhadap mata uang lain. "Tapi, kalau tidak, dia mengatakan, ada penambahan biaya sehingga harus dihitung dulu," katanya kepada KONTAN, Rabu (11/8/2010).

Read more...

 

Lambatnya Negara Maju Jadi Tantangan RI

PostDateIconWednesday, 11 August 2010 19:07 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com — Perekonomian global yang terus pulih memberi efek baik terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, pertumbuhan perekonomian Indonesia pada 2011 diperkirakan tidak terlalu menggembirakan karena lambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju.

"Jelas dari assesment kita, global terus naik, tapi Amerika kan tidak secepat yang diperkirakan, China juga agak sedikit melambat. Bagaimana ke Indonesia? Kita juga membaik seperti global tapi tidak luar biasa," tutur Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana di Kantor Menko Perekonomian, Rabu (11/8/2010).

Read more...

 

Dolar Melemah, Minyak Melejit ke US$82/barel

PostDateIconThursday, 05 August 2010 02:27 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

VIVAnews - Para trader di bursa minyak mentah New York berhasil melanjutkan reli harga sehingga kali ini mampu menembus US$82 per barel. Mereka kali ini cenderung mengabaikan sejumlah laporan mengecewakan di sektor korporat dan proyeksi yang meresahkan di sektor tenaga kerja.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, berdasarkan transaksi pada Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari waktu Asia), harga minyak mentah untuk kontrak September naik US$1,21 atau 1,5 persen menjadi US$82,55 per barel. Ini merupakan rekor tertinggi sejak 4 Mei lalu. Di bursa London, harga minyak Brent naik US$1,86 atau 2,3 persen menjadi US$82,68 per barel.

Tidak seperti di bursa saham, para investor di pasar minyak kali ini tidak ambil pusing atas laporan pendapatan triwulan yang mengecewakan di sektor korporat Selasa lalu, kali ini dari Procter & Gamble dan Dow Chemical. Mereka pun tampak tidak peduli dengan laporan turunnya pesanan manufaktur dan penjualan rumah di AS Juni lalu.

Read more...

 

Ekonomi Indonesia Sebenarnya Mandek

PostDateIconThursday, 05 August 2010 02:13 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonomi harus terus bergerak untuk Indonesia agar sanggup lepas landas sehingga kesejahteraan masyarakat bisa merata. Kemerataan itu sendiri baru bisa dicapai setelah belasan tahun atau mungkin puluhan tahun.

"Tingkat 'koefisien gini' negara kita terus menerus berkisar di angka 0,3 setiap tahunnya. Ini memperlihatkan ekonomi Indonesia sebenarnya mandek," kata Mantan Menteri Perekonomian Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dalam Orasi Ilmiah "Garis-garis Besar Masalah Kependudukan Indonesia dan Kebijakan-kebijakan Penyelesaiannya" di Kantor BKKBN, Jakarta, Rabu (4/8/2010). Koefieisn gini biasa dipakai untuk melihat perbandingan pendapatan dan pengeluaran antara kelompok kaya dan miskin.

Read more...

 

TDL & insentif untuk industri hemat energi

PostDateIconFriday, 30 July 2010 09:37 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

Masalah harga listrik sebagai sumber energi kembali menjadi pusat perhatian masyarakat, termasuk dunia usaha. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) terhitung mulai Juli menjadi pemicu peningkatan biaya produksi industri barang dan jasa serta bahan kebutuhan pokok masyarakat.

Dalam hitungan pemerintah dan PLN, rata-rata kenaikan TDL hanya sebesar 10% dan khusus untuk industri 15%. Akan tetapi dalam kenyataannya dunia usaha menanggung beban kenaikan mencapai 40%. Bahkan untuk sektor tertentu beban kenaikannya mencapai 60%.

Perbedaan beban kenaikan antara kebijakan pemerintah yang disetujui DPR dengan kenyataan lapangan terkait dengan cara perhitungan PLN untuk dunia usaha atau industri yang tidak hanya berdasarkan TDL, namun juga menggunakan (perhitungan kompensasi) tarif multiguna dan daya maksimum serta ada tambahan pajak pertambahan nilai yang dibebankan pada setiap faktur penjualan.

Read more...

 

Survei: Publik Khawatir ACFTA Pukul Pasar Indonesia

PostDateIconFriday, 30 July 2010 20:36 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 1-10 Mei 2010 terhadap 1.000 responden yang tersebar di Indonesia menunjukkan masyarakat Indonesia khawatir kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) memukul pasar Indonesia.

Seperti diwartakan, kesepakatan ACFTA, yang ditandatangani sejak 2004, secara resmi diberlakukan pada 1 Januari 2010. Melalui kesepakatan ini, barang-barang dari China dapat masuk ke seluruh negara ASEAN tanpa bea masuk, begitu juga sebaliknya.

Menurut survei LSI, sebanyak 75,7 persen publik khawatir perdagangan bebas membuat pasar Indonesia dipenuhi produk China. Selain itu, 78,2 persen khawatir perdagangan bebas membuat perusahaan Indonesia gulung tikar akibat tidak mampu bersaing dengan produk China.

Read more...

 

Optimisme pasar bayangi kenaikan harga minyak

PostDateIconFriday, 30 July 2010 09:07 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

DALLAS (Bloomberg): Harga minyak mentah diperdagangkan sedikit berubah di New York setelah menguat untuk pertama kalinya dalam sepekan menyusul melemahnya nilai tukar dolar dan mencuatnya optimisme bahwa permintaan akan kembali naik di tengah pulihnya prospek pemulihan ekonomi.

Harga minyak menguat 1,8% kemarin seiring jatuhnya nilai tukar dolar terhadap euro ke level rendah selama 12 pekan di tengah kepercayaan bahwa ekonomi Eropa akan pulih. Sementara itu, jumlah warga AS yang mengisi klaim asuransi pengangguran juga turun. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah permintaan mungkin akan naik bersamaan dengan pulihnya bursa kerja.

Read more...

 
More Articles...
  • Perkiraan PDB AS tekan harga minyak
  • Capping diterapkan, PLN minta kompensasi
  • Darmin: Inflasi Juli bisa di atas 1%
  • Wapres: Jangan Ragukan Pemerintah...

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Page 5 of 8

Copyright © 2009 ---.
All Rights Reserved.

Joomla template created with Artisteer.