INAplas

Asosiasi Industri Aromatik, Olefin & Plastik Indonesia
Profil
  • Profil Inaplas
Berita Utama
  • Home
  • Petrokimia
  • Listrik
  • Ekonomi
  • Internasional
  • Investasi
  • Plastik
  • Energi Terbaharukan
  • Agro-Pertanian
  • Perdagangan
Berbagi Info
  • Diskusi
  • Direktori Industri
login



  • Forgot your password?
  • Forgot your username?
  • Create an account

INAplas

Pertumbuhan 7,7 Persen Bisa Tercapai, asal...

PostDateIconTuesday, 17 August 2010 22:53 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan target pertumbuhan ekonomi pemerintah sekitar 7-7,7 persen pada tahun 2014.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis mengatakan, target itu bisa tercapai asalkan setiap tahunnya perekonomian meningkat 30 persen lebih tinggi daripada tahun sebelumnya.

"Kalau nanti Presiden bilang tahun ini 6,4 persen ya, berarti sekitar 30 persen harus meningkat tiap tahunnya supaya bisa tercapai," tuturnya di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senin (16/8/2010).

Read more...

 

'Investasi langsung masih terhambat'

PostDateIconTuesday, 17 August 2010 22:47 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA: Proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% yang dipatok pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011, diperkirakan tidak akan diimbangi ketertarikan pemodal melakukan investasi langsung (direct investment).

Analis pasar PT Mega Capital Indonesia Danny Eugene mengatakan belum mantapnya kondisi infrastruktur serta birokrasi yang berbelit di dalam negeri, menyebabkan para pemilik modal terutama dari luar negeri, memilih menahan rencana investasinya.

"Kalau untuk direct investment saya melihat investor masih akan terbentur persolan birokrasi, perizinan dan infrastruktur. Sebenarnya ini persoalan klasik, tetapi masih saja terjadi dan menghambat iklim investasi," ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis, hari ini.

Read more...

 

Pengusaha tolak kenaikan TDL 2011

PostDateIconTuesday, 17 August 2010 22:15 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA: Kalangan pengusaha menolak rencana penaikan tarif dasar listrik (TDL) 2011 sebesar 15% yang direncanakan pemerintah pada awal tahun karena akan menjadikan beban industri semakin berat setelah sebelumnya pemerintah menerapkan kebijakan yang sama pertengahan tahun ini.

Kenaikan TDL itu juga dikhawatirkan akan menggerus daya saing industri dalam negeri, dan semakin memperlebar pintu untuk impor yang lambat laun akan mematikan industri nasional.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan dengan kenaikan TDL per 1 Juli saja telah memberikan beban yang cukup berat bagi industri saat ini. Untuk itu, katanya, sebaiknya pemerintah mengurungkan niatnya untuk kembali menaikkan TDL tahun depan untuk memberi nafas bagi industri domestik.

Read more...

 

Rupiah Kembali di Bawah Rp9.000/US$

PostDateIconMonday, 16 August 2010 10:01 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

VIVAnews - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank, perdagangan awal pekan ini masih ditransaksikan di bawah level Rp9.000 per dolar Amerika Serikat. Rupiah kembali di bawah Rp9.000 setelah Kamis lalu sempat terkoreksi ke level Rp9.010 per dolar AS.

Dalam transaksi valuta asing Bloomberg, Senin 16 Agustus 2010, pukul 09.10 WIB, rupiah ditransaksikan pada Rp8.990 per dolar AS atau melemah 12 poin (0,13 persen).

Melemahnya rupiah berlawanan dengan mata uang yen dan euro yang tengah menguat terhadap dolar AS. Nilai tukar yen pagi ini ditransaksikan menguat 0,44 persen ke 85,8150 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar euro terhadap dolar AS juga menguat 0,097 persen ke US$1,2766 per euro.

Sebaliknya, dolar Hong Kong dan dolar Singapura pagi ini tengah melemah. Dolar Hong Kong melemah 0,018 persen ke 7,7738 sedangkan dolar Singapura melemah 0,23 persen ke 1,3662.

Read more...

 

Ritel DKI terancam ACFTA

PostDateIconFriday, 13 August 2010 17:36 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA: Kebijakan perdagangan bebas Asean-China atau Asean-China Free Trade Area (ACFTA) dikhawatirkan mengancam industri perdagangan ritel di DKI Jakarta.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat angka impor produk melalui DKI pada triwulan II/2010 melonjak 50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, barang-barang impor membanjiri pusat perbelanjaan ritel di DKI Jakarta.

“Kebijakan ACFTA membuat komoditas perdagangan bebas keluar masuk Jakarta sehingga nilai impor produk dan melalui Jakarta meningkat tajam dibandingkan sebelum pemberlakuan ACFTA,” ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS DKI Dody Rudiyanto hari ini.

Menurut Dody, kenaikan impor produk ke DKI mulai tampak pada triwulan I/2010. Data BPS menunjukkan nilai impor produk melalui DKI Jakarta naik signifikan hingga 48,30% atau senilai US$14,69 juta.

Read more...

 

Pemerintah diminta eksekusi kebijakan sektor riil

PostDateIconMonday, 16 August 2010 09:40 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA: Pemerintah diminta tidak hanya mengumbar janji, tetapi lebih banyak mengeksekusi kebijakan secara riil, termasuk membenahi infrastruktur, pasokan energi dan penyaluran kredit, serta menjaga keseimbangan pasar ekspor dan domestik.

"Pemerintah  berkali-kali meeting, banyak memberitahukan, presentasi antar gubernur dan kepala daerah serta menteri, tetapi tidak ada keputusan. Pemerintah janji-janji saja, banyakan janji dari eksekusinya. Sektor riil sekarang menunggu," kata Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya kepada Bisnis hari ini.

Dia menuturkan tanpa campur tangan pemerintah, perekonomian negara ini bisa tumbuh 2% secara alami. Namun dengan kehadiran pemerintah yang menjanjikan pertumbuhan 4,5%-5%, Achmad mempertanyakan semestinya ekonomi nasional bisa tumbuh lebih tinggi apabila sejumlah masalah bisa diatasi, baik pembenahan infrastruktur hingga perbankan yang tidak terlalu mengekang dana.

Read more...

 

Sektor Riil Butuh Perhatian Khusus

PostDateIconThursday, 12 August 2010 23:58 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF | Print | E-mail

JAKARTA, KOMPAS.com - Manajemen perbankan perlu membuat terobosan kebijakan untuk lebih memacu penyaluran kredit usaha rakyat. Pengembangan usaha kecil dan menengah kini patut menjadi prioritas nasional untuk lebih memeratakan sektor riil dan pertumbuhan perekonomian.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan seusai membuka Ramadhan Fair Ukea-Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) di Pasaraya Grande, Jakarta, Kamis (12/8/2010).

Turut hadir Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi, CEO Pasaraya Grande Abdul Latief, pene liti senior Center for Strategic and International Jusuf Wanandi, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Eivind S. Homme, dan pejabat sementara Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Peter van Rooij.

Read more...

 
More Articles...
  • 3 Keputusan implementasi FTZ diterbitkan
  • Produk tekstil & makanan nikmati kenaikan omzet
  • Perminyakan desak revisi UU Migas dituntaskan
  • Chandra Asri pacu produk plastik ramah lingkungan

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Page 3 of 7

Copyright © 2009 ---.
All Rights Reserved.

Joomla template created with Artisteer.